Di balik keanggunan dan tutur kata yang lembut, Dewi Gendari menyimpan dendam yang tidak pernah padam. Ia bukan permaisuri setia yang gelap mata demi cinta kepada sang raja buta. Ia adalah perempuan yang direnggut dari tanah kelahirannya, dijadikan hadiah perang, lalu diserahkan kepada lelaki yang bahkan bukan pemenangnya. Luka itu mengakar kuat, sebelum mahkota permaisuri menghiasi kepalanya. Sementara Prabu Destarastra bergulat antara nurani dan nafsu kekuasaan—antara mengembalikan takhta kepada para Pandawa yang berhak atau menyerahkannya kepada anak-anaknya sendiri—Gendari bergerak diam-diam di sisi yang selama ini dianggap tak terlihat. Dengan adiknya, Sengkuni, yang kini memegang jabatan patih, rencana besar itu tidak lagi berhenti pada dendam pribadi—langkah tersebut berubah menjadi strategi. Apakah dendam adalah labirin: setiap pintu ditafsir sebagai vonis mati dalam batin? Novel ini melampaui tafsir ulang atas cerita yang sudah kita kenal. Kisah-kisah di dalamnya membongkar selubung yang selama berabad-abad tertutup oleh narasi para kesatria: bahwa di balik setiap perang besar, ada seorang perempuan yang lebih dulu bertempur dalam diam, sebelum genderang ditabuh dan medan laga berlumur darah.
| Penulis | : | Ardian Kresna |
|---|---|---|
| Penerbit | : | DIVA Press |
| Tahun terbit | : | 2026 |
| ISBN | : | - |
| Halaman | : | 302 |